Budaya Bersepeda di Negeri Belanda – Alih-alih menggunakan kendaraan bermotor, sepeda tampak lebih populer dan ramah lingkungan di Belanda dibanding moda transportasi lain. Dari pelajar, ibu rumah tangga, pegawai hingga polisi menggunakan sepeda menyusuri jalan-jalan ataupun melakukan aktivitas sehari-hari berkanal di Amsterdam atau kota lainnya.

“Di kota, mobil bukan moda transportasi,” kata Hans Voerknecht, koordinator internasional untuk kelompok riset FietsBeraad.”Sepeda adalah lemak dalam sistem lalu lintas, dan sebagian, sistem ekonomi…sepeda membuat segalanya menjadi mungkin.” slot indonesia

Di antara negara-negara Barat, bersepeda paling populer di Belanda. Hampir 30 persen warga Belanda selalu berpergian dengan sepeda, dan tambahan 40 persen terkadang sepeda untuk bekerja, menurut FietsBeraad.

Budaya Bersepeda di Negeri Belanda

Belanda memang dikenal sebagai negara para pesepeda bahkan sebelum Perang Dunia II pecah, menurut kajian Worldwatch Institute dalam situsnya worldwatch.org. Bahkan dalam salah satu surat kabar harian, sepeda adalah kendaraan favorit dibanding kendaraan lain.

Bersekolah di Belanda tidak hanya memperdalam ilmu pengetahuan namun juga memberikan kesempatan untuk merasakan budaya commuting di negara tersebut. Belanda termasuk yang terdepan dalam kemajuan teknologi transportasi namun untuk gaya commuting, pilihan populernya cukup manual, yaitu bersepeda.

Sepeda atau fiets dalam Bahasa Belanda, merupakan moda transportasi pilihan utama warga Belanda diantara pilihan moda lain yang canggih dan efisien. Di katakan canggih di sini karena Belanda merupakan negara di Eropa dengan sarana transportasi terbaik dalam aspek teknologi dan efisiensi, namun pilihan sepedanya kebanyakan justru sepeda onthel. Persentase sepeda manual dan elektrik berkisar antara 60:40. Selain sepeda onthel, banyak juga ditemukan modifikasi sepeda sesuai dengan kebutuhan seperti sepeda dengan boks khusus untuk balita dan anak-anak yang disebut dengan bakfiets.

Budaya Bersepeda di Negeri Belanda

Statistik Bicara

Berbicara sepeda di Belanda, kita akan melihat figur statistik yang fenomenal. Terdapat lebih banyak sepeda daripada manusia di Belanda.

Pada tahun 2018, tercatat terdapat 22 juta sepeda di seluruh Belanda dengan jumlah penduduk sebesar 17 juta jiwa atau sekitar 1,3 sepeda per kapita. Namun demikian hanya 85 persen penduduk Belanda yang memiliki sepeda, dengan demikian satu orang bisa memiliki lebih dari satu sepeda. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di dunia dan menjadikan sepeda ciri khas negeri Belanda selain yang sudah kita kenal seperti produksi keju dan budidaya tulip.

Total jalur sepeda atau fietspad di Belanda terbentang sepanjang hampir 35.000 km dan kita dapat menelusuri negeri tersebut dengan sepeda di jalurnya tanpa terputus. Adapun jalur sepeda di jalan raya (bersebelahan dengan jalan kendaraan bermotor), tercatat sepanjang 55.000 km.

Statistik penggunaan sepeda, orang Belanda diperkirakan bersepeda sepanjang 5000 km dalam setahun atau melakukan sekitar 250 sampai 300 perjalanan dengan sepeda. Lebih dari 15 miliar kilometer ditempuh dengan sepeda oleh seluruh penduduk Belanda dalam setahun (Mobility Figures Report, Rijwiel en Automobiel Industrie, 2018). 

Tidak hanya di Eropa, Belanda memimpin statistik persepedaan dibandingkan negara-negara lain di dunia. Hal ini berbanding lurus dengan tingkat pencurian sepeda di negara tersebut. Berdasarkan Central Bureau of Statistics, sebanyak 636.308 sepeda hilang pada tahun 2015 atau sekitar 1.744 sepeda setiap harinya.

Pengarusutamaan Sepeda di Belanda

Tidak hanya sebagai pilihan commuting, sepeda sudah menjadi bagian budaya masyarakat Belanda. Inklusivitas sepeda tercakup dalam berbagai aspek pembangunan di Belanda.

Sebagai contoh, pembangunan kembali kota Rotterdam yang luluh lantak setelah Perang Dunia II telah memasukkan jalur dan rute khusus sepeda dalam perencanaan tata kotanya. Hasilnya, Rotterdam dikenal sebagai ‘kota baru’ yang modern dan inklusif di Belanda. Dalam lingkup nasional, pembangunan jalur sepeda dilakukan secara terintegrasi sehingga mampu menghubungkan desa, kota dan provinsi di seluruh Belanda yang menghasilkan rute sepeda nasional atau Dutch National Cycle Network, yang juga mengakomodasi aspek rekreasional dan pariwisata di dalamnya.

Kemudian dalam aspek pendidikan, di sekolah dasar bersepeda menjadi bagian dari kurikulum guna menanamkan kesadaran untuk menjadi pengguna jalan yang bertanggung jawab dan sadar peraturan lalu lintas.

Perkembangan fasilitas pengguna sepeda berkembang beriringan dengan perkembangan fasilitas moda transportasi yang lain seperti jalan raya, jalur tram, dan subway. Artinya, pemerintah Belanda meletakan prioritas yang sama antara sepeda dengan moda transportasi mainstream lainnya. Sebagai contoh, perbaikan atau pembangunan sarana parkir mobil di stasiun juga dibarengi dengan perbaikan dan pembangunan parkir untuk sepeda. Dalam perkembangan terkini, kebutuhan infrastruktur sepeda justru lebih menuntut daripada untuk kendaraan bermotor.

Sama halnya dengan peraturan lalu lintas, pemerintah Belanda juga telah mengakomodasi tata tertib bersepeda dalam regulasinya seperti kewajiban kelengkapan keamanan sepeda yaitu lampu dan bel serta sanksi pelanggaran. Guna menjaga tata tertib, tempat parkir sepeda diletakan di berbagai sudut kota dan parkir sepeda sembarangan akan dikenakan denda atau diambil oleh pihak berwenang.

Aspek infrastruktur juga senantiasa memperhatikan kebutuhan ruang pengguna sepeda yang terintegrasi antar kota dan provinsi. Jembatan dan jalan raya antar kota/provinsi juga menyediakan jalur sepeda. Jalur sepeda dibangun bersebelahan dengan jalur kendaraan yang dilengkapi dengan lampu lalu lintas tersendiri. Guna keamanan pengguna sepeda, sekat permanen dibangun untuk memisahkan jalur mobil dan jalur sepeda.

Setiap pemerintah kota (Gemeente) memberikan layanan registrasi bebas biaya sepeda untuk kemudian didaftarkan ke kepolisian setempat guna memperoleh kartu registrasi sepeda. Hal ini berguna ketika terjadi pencurian sepeda karena polisi Belanda hanya akan menindaklanjuti laporan pencurian sepeda yang teregistrasi di Gemeente.

Faktor Pendorong dan Visi Kedepan

Kampanye bersepeda oleh pemerintah Belanda dimulai sejak tahun 1974 ketika terjadi krisis minyak dunia dimana Belanda salah satu negara target embargo Organization of Arab Petroleum Exporting Countries yang mengakibatkan meroketnya harga minyak. Pemerintah Belanda kemudian menerapkan kebijakan mempopulerkan sepeda di seluruh negeri. Selain faktor tingginya harga bahan bakar minyak, kampanye sepeda digalakkan untuk mempromosikan keselamatan di jalan raya, penurunan polusi dan program masyarakat yang lebih sehat.

Belanda membutuhkan waktu sekitar 30 tahun untuk membangun budaya bersepeda dengan regulasi dan sistem yang komprehensif dan terintegrasi. Kini, 45 tahun sejak pertama dicanangkannya kampanye bersepeda, Belanda telah berhasil menjadikan sepeda sebagai gaya hidup. Sebagai salah satu negara dengan penghasilan per kapita yang tinggi (kisaran USD 52.900 – USD 56.400 per kapita tahun 2018), sepeda tetap menjadi pilihan moda transportasi utama.

Pemerintah Belanda pun tidak berhenti sampai di pencapaian yang sudah diraih tersebut, pada tahun 2017 pemerintah Belanda mencanangkan Tour de Force yaitu peningkatan 20 persen peningkatan kilometer bersepeda pada tahun 2024.

Menilik ke dalam, kini kesibukan jalan raya di ibukota Jakarta bertambah karena renovasi dalam rangka penambahan lajur sepeda di beberapa ruas jalan. Diharapkan ini menjadi langkah awal Jakarta seperti yang diambil oleh pemerintah Belanda 45 tahun yang lalu.